TALBIAH

Tuesday, November 30, 2010

Kalau Mencari Teman

 gelagat jemaah di kawasan kaabah


 serumpun 
 Jemaah Indon terlelap di bangku gergasi di lobi hotel Mana?

Hj Nizam dan Isteri berehat selepas makan malam nasi mandy

Oleh : nina mazrina

ISLAM merupakan agama yang lengkap dalam semua aspek kehidupan sama ada dari segi ilmu pengetahuan, ekonomi, politik dan juga sosial. Oleh itu, dalam kehidupan sosial, kita telah disediakan beberapa garis panduan yang kalau diikuti boleh mendatangkan kebaikan dan menghindarkan keburukan.

Contoh kehidupan bersosial ialah soal mencari sahabat. Kita dinasihatkan supaya berhati-hati memilih sahabat kerana Islam menegah kita mancari sahabat yang boleh membawa kepada kemungkaran.

Seperti fiman Allah SWT dalam surah Kahfi ayat 29 yang bermaksud :

"Janganlah engkau mengikuti orang yang telah Kami lupakan hatinya untuk mengingat-ingat (berzikir) pada Kami dan ia suka mengikuti hawa nafsunya."

Sekiranya kita memilih sahabat yang terlalu cintakan dunia dan mementingkan hawa nafsunya, sahabat itu akan merugikan kita. Malah, lambat-laun, kita mencari sahabat yang soleh yang paling ingat-mengingati ke jalan yang diredhai oleh Allah SWT.

Hal ini dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang bermaksud :

"Seseorang itu menurut agama (aturan) kekasihnya, maka oleh sebab itu baiklah seseorang dari kamu semua itu meniliti orang yang dikasihi."

WASIAT AL-QAMAH

Sifat-sifat yang perlu ada pada seseorang yg ingin kita jadikan sahabat bolehlah kita contohi daripada wasiat yang diberikan oleh al-Qamah kepada anaknya.......

Katanya :

"Hai anakku, jikalau engkau rasa perlu bersahabat dengan seseorang maka pilihlah yang mempunyai sifat-sifat ini iaitu :

Jikalau engkau melayaninya, ia suka melindungi, jika engkau bersahabat dengannya, ia akan merupakan hiasan dirimu dan jika engkau dalam keadaan kekurangan nafkah, ia suka mencukupi keperluanmu.

Pilihlah seorang sahabat yang apabila engkau menghulurkan tangan untuk memberikan jasa baik atau bantuanmu, ia suka menerima dengan rasa terharu, jikalau ia melihat kebaikan yang ada pada dirimu, ia suka menghitung-hitungkan.

Pilihlah seorang sahabat yang apabila engkau menghulurkan tangan untuk memberikan jasa baik atau bantuanmu, ia suka menerima dengan rasa terharu, dan dianggap sangat berguna, sedangkan jikalau ia mengetahui tentang keburukan dirimu lalu ia suka menutupinya.

Pilihlah sahabat yang jikalau engkau meminta sesuatu daripadanya, pasti ia memberi, jikalau engkau diam, ia mulai menyapamu dahulu dan jika ada sesuatu kesukaran dan kesedihan yang menimpa dirimu, ia suka membantu dan meringankanmu serta menghiburkanmu.

Pilihlah sahabat yang jikalau engkau berkata, ia suka membenarkan ucapan dan bukan selalu mempercayainya sahaja. Jikalau engkau mengemukakan sesuatu persoalan yang berat, ia suka mengusahakannya dan jikalau engkau berselisih dengannya, ia suka sekali mengalah untuk kepentinganmu."

Saiyidina Ali KWJ menjelaskan tentang sahabat yang baik. Antara lain, beliau menyatakan...

"Sahabat yang sebenar-benarnya ialah orang yang ada di sampingmu. Ia suka membabitkan dirinya sendiri dalam bahaya demi untuk kesejahteraanmu."

Saiyidina Ali KWJ bukan setakat bercakap kosong, malah telah membuktikan kata-katanya dengan mengambil alih tempat tidur Rasulullah SAW sewaktu baginda bersama Saiyidina Abu Bakar merancang untuk berhijrah ke Madinah.

Walaupun Saiyidina Ali KWJ tahu risiko yang terlalu tinggi akan dihadapinya kerana pemuda-pemuda Quraisy bercadang untuk menyerbu rumah Rasulullah SAW dan membunuhnya, tetapi Saiyidina Ali KWJ sanggup menghadapi bahaya itu atas dasar kepentingan keselamatan sahabatnya. Atas pengorbanan dan kesetiaan beliau, Allah telah menyelamatkan beliau daripada dibunuh oleh pemuda-pemuda Quraisy itu.

Contoh persahabatan lain yang boleh diteladani ialah persahabatan Saiyidina Abu Bakar dengan Rasulullah SAW. Saidina Abu Bakar sentiasa mempercayai dan mengiakan apa yang Rasullullah SAW katakan. Sebagai contoh, sewaktu Rasulullah SAW menceritakan perjalanan Isra' dan Mi'raj kepada semua orang di Kota Mekah, mereka tidak mempercayai cerita Rasulullah SAW malah mengejek-ngejek dan menuduh baginda sebagai pembohong.

Mereka yang tidak percaya kepada cerita Rasulullah SAW telah pergi berjumpa dengan Saiyidina Abu Bakar untuk menanyakan sama ada cerita tersebut benar atau sebaliknya. Tujuan mereka adalah untuk mentertawakan Saidina Abu Bakar yang menjadi sahabat baik Rasulullah SAW.

Apabila Saiyidina Abu Bakar mendengar mendengar pertanyaan mereka, dengan tenang beliau bertanya semula apakah benar Rasulullah SAW bercerita sedemikian. Mereka mengatakan begitulah cerita Rasulullah SAW lalu tanpa ragu-ragu Saiyidina Abu Bakar menyatakan apa yang Rasulullah SAW katakan itu semuanya benar.

Saiyidina Abu Bakar bukan setakat mempercayai apa yang sahabatnya katakan tetapi juga sanggup berkorban harta untuk kepentingan perjuangan agama Islam yang dibawa oleh sahabatnya.

PENGORBANAN SAHABAT NABI.
Di samping itu, pengorbanan yang paling besar yang diberikan oleh Saiyidina Abu Bakar kepada Rasulullah SAW ialah apabila sanggup bersama-sama dengan sahabatnya sewaktu berhijrah ke Madinah.

Penghijrahan Rasulullah SAW ke Madinah bukanlah satu perjalanan yang selamat kerana orang-orang Quraisy sentiasa memusuhi dan ingin membunuh baginda.

Sewaktu dalam perjalanan dari Makkah ke Madinah, Saiyidina Abu Bakar sentiasa berada di hadapan dan di belakang Rasulullah SAW. Apabila baginda bertanya akan hal itu, Saidina Abu Bakar menjawab...

"Aku berjalan di hadapan untuk memilih jalan yang baik dan selamat sementara aku berjalan di belakangmu untuk menjaga keselamatanmu dari serangan musuh yang mengejarmu."

Sebagai kesimpulan, marilah kita perhatikan nasihat Abu Sulaiman tentang pentingnya memilih sahabat seperti yang dianjurkan oleh Islam.

Katanya...

Janganlah sesekali engkau bersahabat melainkan salah satu daripada 2 orang ini :

Pertama, orang yang dapat engkau ajak bersahabat dalam urusan duniamu dengan jujur.

Kedua, orang yang dijadikan sahabat itu dapat menambahkan kemanfaatan duniamu untuk urusan akhiratmu.

Jika engkau bersahabat selain daripada 2 orang ini, pastinya engkau memiliki kebodohan yang luar biasa besarnya.

Monday, November 29, 2010

Segelas Air Sebanding Dengan Sejuta Pound

 Waktu zohur

 solat di dataran gazzah
selepas makan malam di bilik CL
 bersama sahabat dari puchong utama

 sahabat subang jaya
 pernah bekerja di pejabat sama 
 ulang tahun perkahwinan Haji n Hajjah 33 tahun tu..

Oleh : kisahteladan.com

Penulis terkenal kebangsaan Mesir yang bernama Mustafa Amin, dimana beliau adalah salah satu yang dijebloskan ke dalam penjara di masa pemerintahan Gamal Abdul Naser pada tahun 1965, menceritakan kisahnya saat berada di dalam penjara.
Ia berkata, “Di antara bentuk penganiayaan yang ditetapkan pemerintah pada saat itu adalah melarang penghuni penjara makan dan minum. Larangan untuk makan sangatlah menyakitkan, walaupun masih memungkinkan untuk bertahan, akan tetapi haus adalah siksaan yang tidak mungkin bisa ditanggung, khususnya di bulan-bulan musim panas dengan derajat panas yang tinggi sekali,Selain itu saya mempunyai penyakit gula, yang mengharuskan saya banyak minum.

Di hari pertama pelarangan ini, saya masuk kamar kecil, di sana saya mendapatkan tempat air yang berisi air untuk istinja’, kemudian saya minum air tersebut sampai habis, dan sebagai ganti untuk istinja’, saya gunakan tissu toilet.

Dengan semakin bertambahnya rasa hausku, saya terpaksa minum air kencing. Sampai di hari ketiga, saya tidak mendapatkan air kencing untuk saya minum.
Saya sangat haus, saya merasakan siksaan yang sangat pedih. Kemudian, saya berjalan-jalan di dalam sel saya sehingga nampak seperti orang gila. Lidah dan tenggorokan saya kering.

Terkadang saya menunduk ke lantai dengan harapan semoga sipir penjara terlupa dan menyisakan setetes air ketika mereka mengepel lantai!!
Setelah itu saya merasakan bahwa saya hampir binasa, dalam kondisi seperti itu saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan,

saya kuras pikiranku, sampai saya terhuyung-huyung, ketika itu aku malihat bahwa pintu sel dibuka dengan perlahan-lahan, dan dalam kegelapan saya perhatikan ada tangan seseorang mengulurkan segelas air dingin. Saya tergoncang, terbayang seolah-olah aku telah gila?

Aku mulai melihat bayangan orang itu, ah … tidak mungkin ini air … ini hanyalah fatamorgana. Kemudian, saya ulurkan tangan dan saya benar-benar menyentuh gelas tersebut, ternyata sedingin es. Saya melihat pembawa gelas tadi meletakkan jarinya di atas bibirnya, seolah-olah ia berkata kepada saya, ‘Janganlah kamu bicara’.

Saya minum air tersebut, akan tetapi ia sangat berbeda dengan air yang pernah saya minum selama ini, ia adalah air yang paling nikmat yang pernah saya minum di dalam kehidupan saya sebelumnya. Kalau seandainya pada waktu itu aku memegang uang satu juta pound (junaih), niscaya aku berikan kepada sipir yang tidak kukenal ini.

Minum air segelas tersebut membuat ruh saya seakan kembali ke tubuh dan tidak perlu lagi makan karena kenyang. Bahkan, lebih dari itu, aku merasa tidak perlu dikeluarkan dari penjara. Saya merasakan kebahagiaan yang belum pernaha saya rasakan selama hidup saya, semua itu disebabkan segelas air yang dingin.

Setelah itu, sipir pergi dengan cepat seperti kedatangannya tadi dan menutup pintu sel dengan perlahan. Saya melihat bayangan sipir, ia adalah pemuda yang berkulit coklat dan berbadan pendek. Akan tetapi, saya merasakan ia seperti malaikat. Saya melihat langsung pertolongan ALlah di sel penjara.

Hari yang penuh siksaan terus berjalan, tanpa pernah lagi melihat sipir yang tidak saya kenal itu. Kemudian, saya dipindahkan ke ruangan penyiksaan di lantai dasar penjara. Setiap hari melihat sipir yang tidak saya kenal itu berdiri di hadapan saya.

Ketika itu saya hanya berdua. Saya bertanya dengan perlahan-lahan kepadanya, ‘Kenapa engkau lakukan perbuatan itu? Kalau mereka mengetahuinya tentu memecatmu’.

Dengan menyunggingkan senyum, ia menjawab, ‘Hanya memecat saya!? Bahkan, mereka akan membunuh saya dengan menembakkan senjata?’

Saya bertanya, ‘Apa yang membuatmu melakukan hal yang berbahaya itu?
Ia menjawab, ‘Sesungguhnya saya mengenal anda, namun anda tidak mengenal saya. Kira-kira 9 tahun yang lalu, seorang petani dari Giza mengirim surat kepada anda,

yang isinya menceritakan bahwa ia adalah seorang petani yang tinggal di sebuah perkampungan, dalam hidupnya ia sangat menginginkan membeli seekor sapi. Akan tetapi, setelah 6 bulan sapi yang berhasil dibelinya tersebut mati. Beberapa bulan setelah itu, yakni pada malam-malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan,

tiba-tiba pintu rumah yang sempit kepunyaan petani itu diketuk, dan datanglah utusan dari harian koran anda, Akhbarul Yaum, sambil memegang tali yang mengikat seekor sapi di belakangnya. Ketika itu koran harian Akbarul Yaum selalu mewujudkan beratus-ratus impian para pembacanya di malam-malam Lailatul Qadar di setiap tahunnya’.

Sipir itu terdiam sebentar, kemudian ia berkata, ‘Petani yang telah Anda kirimi seekor sapi kepadanya 9 tahun yang lalu adalah ayahku’.
Bukankah telah aku katakan kepada kalian tadi bahwa pertolongan Allah menyertaiku saat aku di dalam sel penjara?!

Demikianlah perbuatan baik yang telah dilakukan seorang penulis sejak 9 tahun yang lalu terhadap seorang petani telah membuahkan hasil dan bisa menyelamatkan hidup sang penulis (dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala). Segelas air di saat-saat ujian yang berat sekali lebih berharga dan lebih nikmat dari segala yang ada didunia.

Oleh karena itu, jadikanlah dalam beramal ikhlas semata-mata karena Allah Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya.

Menginfakkan harta di jalan kebaikan, pasti akan mendapatkan balasan walaupun setelah lama berlalu masanya. Terkadang balasan perbuatan baik itu akan berlipat ganda. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-baqarah: 272, yang artinya:

“Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Janganlah kamu membelanjakan sesuatu, melainkan karena mencari keridhaan Allah.

Apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup, sedang kamu sedikit pun tidak akan dianiaya (dirugikan)."

Sunday, November 28, 2010

Pendengki Tidak Akan Sukses

 Jemaah masih ramai

 solat asar
 Habis solat mcm biasa berebut untuk kucup hajar aswad

 Imam dgn kawalan ketat
Janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling mendengki, janganlah kalian saling membelakangi


“Janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling mendengki, janganlah kalian saling membelakangi (saling berpaling), dan janganlah kalian saling memutuskan. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (H.R. Muttafaq ‘alaih)

Hadis ini diriwayatkan Imam al-Bukhari dalam “Al Adab” dan Muslim dalam “Al Birr”. Lebih khusus tentang larangan dengki disebutkan oleh Rasulullah saw. dalam hadis lain:

“Hindarilah dengki karena dengki itu memakan (menghancurkan) kebaikan sebagaimana api memakan (menghancurkan) kayu bakar.” (H.R Abu Dawud).

Dengki didefiniskan oleh para ulama sebagai:
“Mengangankan hilangnya kenikamatan dari pemiliknya, baik kenikmatan (yang berhubungan dengan) agama maupun dunia.”

Dari definisi di atas kita dapat memahami bahwa iri dengki tidak hanya menyangkut capaian-capaian yang bersifat duniawi, seperti rumah dan kendaraan, melainkan juga menyangkut capaian-capaian di lingkup keagamaan, misalnya dakwah. Ini juga berarti bahwa penyakit dengki bukan hanya menjangkiti kalangan awam. Iri dengki itu ternyata dapat menjalar dan menjangkiti kalangan yang dikategorikan berilmu, pejuang, dan da’i. Seorang da’i atau mubalig, misalnya, tidak suka melihat banyaknya pengikut da’i atau mubalig lain. Seorang yang berafiliasi kepada kelompok atau jama’ah tertentu sangat benci kepada kelompok atau jama’ah lain yang mendapatkan kemenangan-kemenang an. Dan masih banyak lagi bentuk lainnya dari sikap iri dengki di kalangan para “pejuang”. Tapi bagaimana ini bisa terjadi?

Imam al-Ghazali r.a. menjelaskan, “Tidak akan terjadi saling dengki di kalangan para ulama. Sebab yang mereka tuju adalah ma’rifatullah (mengenal Allah). Tujuan seperti itu bagaikan samudera luas yang tidak bertepi. Dan yang mereka cari adalah kedudukan di sisi Allah. Itu juga merupakan tujuan yang tidak terbatas. Karena kenikmatan paling tinggi yang ada pada sisi Allah adalah perjumpaan dengan-Nya. Dan dalam hal itu tidak akan ada saling dorong dan berdesak-desakan. Orang-orang yang melihat Allah tidak akan merasa sempit dengan adanya orang lain yang juga melihat-Nya. Bahkan, semakin banyak yang melihat semakin nikmatlah mereka.”

Al-Ghazali melanjutkan, “Akan tetapi, bila para ulama, dengan ilmunya itu menginginkan harta dan wibawa mereka pasti saling dengki. Sebab harta merupakan materi. Jika ia ada pada tangan seseorang pasti hilang dari tangan orang lain. Dan wibawa adalah penguasaan hati. Jika hati seseorang mengagungkan seorang ulama pasti orang itu tidak mengagungkan ulama lainnya. Hal itu dapat menjadi sebab saling dengki.” (Ihya-u ‘Ulumid-Din, Imam Al-Ghazali, juz III hal. 191.)

Jadi, dalam konteks perjuangan, dengki dapat merayapi hati orang yang merasa kalah wibawa, kalah popularitas, kalah pengaruh, kalah pengikut. Yang didengki tentulah pihak yang dianggapnya lebih dalam hal wibawa, polularitas, pengaruh, dan jumlah pengikut itu. Tidak mungkin seseorang merasa iri kepada orang yang dianggapnya lebih “kecil” atau lebih lemah. Sebuah pepatah Arab mengatakan, “Kullu dzi ni’matin mahsuudun.” (Setiap yang mendapat kenikmatan pasti didengki).

Penyakit dengki sangat berbahaya. Tapi bahayanya lebih besar mengancam si pendengki ketimbang orang yang didengki. Bahkan realitas membuktikan, sering kali pihak yang didengki justru diuntungkan dan mendapatkan banyak kebaikan. Sebaliknya, si pendengki menjadi pecundang. Di antara kekalahan-kekalahan pendengki adalah sebagai berikut.

Pertama, kegagalan dalam perjuangan.
Perilaku pendengki sering tidak terkendali. Dia bisa terjebak dalam tindakan merusak nama baik, mendeskreditkan, dan menghinakan orang yang didengkinya. Dengan cara itu ia membayangkan akan merusak citra, kredibelitas, dan daya tarik orang yang didengkinya dan sebaliknya mengangkat citra, nama baik, dan kredibelitas pihaknya. Namun kehendak Allah tidaklah demikian. Rasulullah saw. bersabda:

Dari Jabir dan Abu Ayyub al-Anshari, mereka mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada seorang pun yang menghinakan seorang Muslim di satu tempat yang padanya ia dinodai harga dirinya dan dirusak kehormatannya melainkan Allah akan menghinakan orang (yang menghina) itu di tempat yang ia inginkan pertolongan- Nya. Dan tidak seorang pun yang membela seorang Muslim di tempat yang padanya ia dinodai harga dirinya dan dirusak kehormatannya melainkan Allah akan membela orang (yang membela) itu di tempat yang ia menginginkan pembelaan-Nya.” (H.R. Ahmad, Abu Dawud, dan Ath-Thabrani)

Kedua, melumat habis kebaikan.
Rasulullah saw. bersabda, “Hindarilah dengki karena dengki itu memakan (menghancurkan) kebaikan sebagaimana api memakan (menghancurkan) kayu bakar.” (H.R. Abu Dawud).

Makna memakan kebaikan dijelaskan dalam kitab ‘Aunul Ma’bud, “Memusnahkan dan menghilangkan (nilai) ketaatan pendengki sebagaimana api membakar kayu bakar. Sebab kedengkian akan mengantarkan pengidapnya menggunjing orang yang didengki dan perbuatan buruk lainnya. Maka berpindahlah kebaikan si pendengki itu pada kehormatan orang yang didengki. Maka bertambahlah pada orang yang didengki kenikmatan demi kenikmatan sedangkan si pendengki bertambah kerugian demi kerugian. Sebagaimana yang Allah firmankan, ‘Ia merugi dunia dan akhirat’.” (‘Aunul-Ma’bud juz 13:168)

Ketiga, tidak produktif dengan kebajikan.
Rasulullah saw. bersabda, “Menjalar kepada kalian penyakit umat-umat (terdahulu): kedengkian dan kebencian. Itulah penyakit yang akan mencukur gundul. Aku tidak mengatakan bahwa penyakit itu mencukur rambut melainkan mencukur agama.” (H.R. At-Tirmidzi)

Islam yang rahmatan lil-’alamin yang dibawa oleh orang yang di dadanya memendam kedengkian tidak akan dapat dirasakan nikmatnya oleh orang lain. Bahkan pendengki itu tidak mampu untuk sekadar menyungging senyum, mengucapkan kata ‘selamat’, atau melambaikan tangan bagi saudaranya yang mendapat sukses, baik dalam urusan dunia maupun terkait dengan sukses dalam perjuangan. Apatah lagi untuk membantu dan mendukung saudaranya yang mendapat sukses itu. Dengan demikian Islam yang dibawanya tidak produktif dengan kebaikan alias gundul.

Keempat, menghancurkan harga diri.
Ketika seseorang melampiaskan kebencian dan kedengkian dengan melakukan propaganda busuk, hasutan, dan demarketing kepada pihak lain, jangan berangan bahwa semua orang akan terpengaruh olehnya. Yang terpengaruh hanyalah orang-orang yang tidak membuka mata terhadap realitas, tidak dapat berpikir objektif, atau memang sudah “satu frekuensi” dengan si pendengki. Akan tetapi banyak pula yang mencoba melakukan tabayyun, mencari informasi pembanding, dan berusaha berpikir objektif. Nah, semakin hebat gempuran kedengkian dan kebencian itu, bagi orang yang berpikir objektif justru akan semakin tahu kebusukan hati si pendengki. Orang yang memiliki hati nurani ternyata tidak senang dengan fitnah, isu murahan, atau intrik-intrik pecundang. Di mata mereka orang-orang yang bermental kerdil itu tidaklah simpatik dan tidak mengundang keberpihakan.

Orang yang banyak melakukan provokasi dan hanya bisa menjelek-jelekkan pihak lain juga akan terlihat di mata orang banyak sebagai orang yang tidak punya program dalam hidupnya. Dia tampil sebagai orang yang tidak dapat menampilkan sesuatu yang positif untuk “dijual”. Maka jalan pintasnya adalah mengorek-ngorek apa yang ia anggap sebagai kesalahan. Bahkan sesuatu yang baik di mata pendengki bisa disulap menjadi keburukan. Nah, mana ada orang yang sehat akalnya suka cara-cara seperti itu?

Kelima, menyerupai orang munafik.
Di antara perilaku orang munafik adalah selalu mencerca dan mencaci apa yang dilakukan oran lain terutama yang didengkinya. Jangankan yang tampak buruk, yang nyata-nyata baik pun akan dikecam dan dianggap buruk. Allah swt. menggambarkan prilaku itu sebagai prilaku orang munafik. Abi Mas’ud al-Anshari r.a. mengatakan, saat turun ayat tentang infaq para sahabat mulai memberikan infaq. Ketika ada orang Muslim yang memberi infaq dalam jumlah besar, orang-orang munafik mengatakan bahwa dia riya. Dan ketika ada orang Muslim yang berinfak dalam jumlah kecil, mereka mengatakan bahwa Allah tidak butuh dengan infak yang kecil itu. Maka turunlah ayat 79 At-Taubah. (Al-Bukhari dan Muslim)

Keenam, gelap mata dan tidak termotivasi untuk memperbaiki diri.
Pendengki biasanya sulit melihat kelemahan dan kekurangan diri sendiri dan tidak dapat melihat kelebihan pada pihak lain. Akibatnya pula jalan kebenaran yang terang benderang menjadi kelam tertutup mega kedengkian. Apa pun yang dikatakan, apa pun yang dilakukan dan apa pun yang datang dari orang yang dibenci dan didengkinya adalah salah dan tidak baik. Akhirnya dia tidak dapat melaksanakan perintah Allah swt. sebagaimana yang disebutkan dalam ayat, “Orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (Q.S. Az-Zumar 39: 18)

Di sisi lain, pendengki –manakala mengalami kekalahan dan kegagalan dalam perjuangan— cenderung mencari kambing hitam. Ia menuduh pihak luar sebagai biang kegagalan dan bukannya melakukan muhasabah (introspeksi) . Semakin larut dalam mencari-cari kesalahan pihak lain akan semakin habis waktunya dan semakin terkuras potensinya hingga tak mampu memperbaiki diri. Dan tentu saja sikap ini hanya akan menambah keterpurukan dan sama sekali tidak dapat memberikan manfaat sedikit pun untuk mewujudkan kemenangan yang didambakannya.

Ketujuh, membebani diri sendiri.
Iri dengki adalah beban berat. Bayangkan, setiap melihat orang yang didengkinya dengan segala kesuksesannya, mukanya akan menjadi tertekuk, lidahnya mengeluarkan sumpah serapah, bibirnya berat untuk tersenyum, dan yang lebih bahaya hatinya semakin penuh dengan marah, benci, curiga, kesal, kecewa, resah, dan perasaan-perasaan negatif lainnya. Nikmatkah kehidupan yang penuh dengan perasaan itu? Seperti layaknya penyakit, ketika dipelihara akan mendatangkan penyakit lainnya. Demikian pula penyakit hati yang bernama iri dengki. “Di dalam hati mereka ada penyakit maka Allah tambahkan kepada mereka penyakit (lainnya).” (Q.S. Al Baqarah 2: 10)

Jika demikian, mengertilah kita makna pernyataan seorang ulama salaf, seperti disebutkan dalam kitab Kasyful-Khafa 1:430
“Pendengki tidak akan pernah sukses.” Wallahu A’lam.
sumber: http://www.kisahteladan.com

Saturday, November 27, 2010

MENAHAN LAPAR SEMALAMAN KERANA MENGHORMATI TETAMU




Oleh : tanbihul_ghafilin

Seorang telah datang menemui Rasulullah s.a.w. dan telah menceritakan kepada Baginda s.a.w. tentang kelaparan yang dialami olehnya. Kebetulan pada ketika itu Baginda s.a.w. tidak mempunyai suatu apa makanan pun pada diri Baginda s.a.w. mahupun di rumahnya sendiri untuk diberikan kepada orang itu.

Baginda s.a.w. kemudian bertanya kepada para sahabat,"Adakah sesiapa di antara kamu yang sanggup melayani orang ini sebagai tetamunya pada malam ini bagi pihak aku?" Seorang dari kaum Ansar telah menyahut, "Wahai Rasulullah s.a.w. , saya sanggiup melakukan seperti kehendak tuan itu.".

Orang Ansar itu pun telah membawa orang tadi ke rumahnya dan menerangkan pula kepada isterinya seraya berkata, "Lihatlah bahawa orang ini ialah tetamu Rasulullah s.a.w. Kita mesti melayaninya dengan sebaik-baik layanan mengikut segala kesanggupan yang ada pada diri kita dan semasa melakukan demikian janganlah kita tinggalkan sesuatu makanan pun yang ada di rumah kita.

" Lalu isterinya menjawab, "Demi Allah! Sebenarnya daku tidak ada menyimpan sebarang makanan pun, yang ada cuma sedikit, itu hanya mencukupi untuk makanan anak-anak kita di rumah ini ?"

Orang Ansar itu pun berkata, "Kalau begitu engkau tidurkanlah mereka dahulu (anak-anaknya) tanpa memberi makanan kepada mereka. Apabila saya duduk berbual-bual dengan tetamu ini di samping jamuan makan yang sedikit ini, dan apabila kami mulai makan engkau padamlah lampu itu, sambil berpura-pura hendak membetulkannya kembali supaya tetamu itu tidakk akan ketahui bahawa saya tidak makan bersama-samanya.

" Rancangan itu telah berjalan dengan lancarnya dan seluruh keluarga tersebut termasuk kanak-kanak itu sendiri terpaksa menahan lapar semata-mata untuk membolehkan tetamu itu makan sehingga berasa kenyang. Berikutan dengan peristiwa itu,

Allah s.w.t. telah berfirman yang bermaksud, "Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka berada dalam kesusahan." (Al-Hasy : 9)

Thursday, November 25, 2010

Kalau Mencari Teman




 



Oleh : nina mazrina

ISLAM merupakan agama yang lengkap dalam semua aspek kehidupan sama ada dari segi ilmu pengetahuan, ekonomi, politik dan juga sosial. Oleh itu, dalam kehidupan sosial, kita telah disediakan beberapa garis panduan yang kalau diikuti boleh mendatangkan kebaikan dan menghindarkan keburukan.

Contoh kehidupan bersosial ialah soal mencari sahabat. Kita dinasihatkan supaya berhati-hati memilih sahabat kerana Islam menegah kita mancari sahabat yang boleh membawa kepada kemungkaran.

Seperti fiman Allah SWT dalam surah Kahfi ayat 29 yang bermaksud :

"Janganlah engkau mengikuti orang yang telah Kami lupakan hatinya untuk mengingat-ingat (berzikir) pada Kami dan ia suka mengikuti hawa nafsunya."

Sekiranya kita memilih sahabat yang terlalu cintakan dunia dan mementingkan hawa nafsunya, sahabat itu akan merugikan kita. Malah, lambat-laun, kita mencari sahabat yang soleh yang paling ingat-mengingati ke jalan yang diredhai oleh Allah SWT.

Hal ini dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang bermaksud :

"Seseorang itu menurut agama (aturan) kekasihnya, maka oleh sebab itu baiklah seseorang dari kamu semua itu meniliti orang yang dikasihi."

WASIAT AL-QAMAH

Sifat-sifat yang perlu ada pada seseorang yg ingin kita jadikan sahabat bolehlah kita contohi daripada wasiat yang diberikan oleh al-Qamah kepada anaknya.......

Katanya :

"Hai anakku, jikalau engkau rasa perlu bersahabat dengan seseorang maka pilihlah yang mempunyai sifat-sifat ini iaitu :

Jikalau engkau melayaninya, ia suka melindungi, jika engkau bersahabat dengannya, ia akan merupakan hiasan dirimu dan jika engkau dalam keadaan kekurangan nafkah, ia suka mencukupi keperluanmu.

Pilihlah seorang sahabat yang apabila engkau menghulurkan tangan untuk memberikan jasa baik atau bantuanmu, ia suka menerima dengan rasa terharu, jikalau ia melihat kebaikan yang ada pada dirimu, ia suka menghitung-hitungkan.

Pilihlah seorang sahabat yang apabila engkau menghulurkan tangan untuk memberikan jasa baik atau bantuanmu, ia suka menerima dengan rasa terharu, dan dianggap sangat berguna, sedangkan jikalau ia mengetahui tentang keburukan dirimu lalu ia suka menutupinya.

Pilihlah sahabat yang jikalau engkau meminta sesuatu daripadanya, pasti ia memberi, jikalau engkau diam, ia mulai menyapamu dahulu dan jika ada sesuatu kesukaran dan kesedihan yang menimpa dirimu, ia suka membantu dan meringankanmu serta menghiburkanmu.

Pilihlah sahabat yang jikalau engkau berkata, ia suka membenarkan ucapan dan bukan selalu mempercayainya sahaja. Jikalau engkau mengemukakan sesuatu persoalan yang berat, ia suka mengusahakannya dan jikalau engkau berselisih dengannya, ia suka sekali mengalah untuk kepentinganmu."

Saiyidina Ali KWJ menjelaskan tentang sahabat yang baik. Antara lain, beliau menyatakan...

"Sahabat yang sebenar-benarnya ialah orang yang ada di sampingmu. Ia suka membabitkan dirinya sendiri dalam bahaya demi untuk kesejahteraanmu."

Saiyidina Ali KWJ bukan setakat bercakap kosong, malah telah membuktikan kata-katanya dengan mengambil alih tempat tidur Rasulullah SAW sewaktu baginda bersama Saiyidina Abu Bakar merancang untuk berhijrah ke Madinah.

Walaupun Saiyidina Ali KWJ tahu risiko yang terlalu tinggi akan dihadapinya kerana pemuda-pemuda Quraisy bercadang untuk menyerbu rumah Rasulullah SAW dan membunuhnya, tetapi Saiyidina Ali KWJ sanggup menghadapi bahaya itu atas dasar kepentingan keselamatan sahabatnya. Atas pengorbanan dan kesetiaan beliau, Allah telah menyelamatkan beliau daripada dibunuh oleh pemuda-pemuda Quraisy itu.

Contoh persahabatan lain yang boleh diteladani ialah persahabatan Saiyidina Abu Bakar dengan Rasulullah SAW. Saidina Abu Bakar sentiasa mempercayai dan mengiakan apa yang Rasullullah SAW katakan. Sebagai contoh, sewaktu Rasulullah SAW menceritakan perjalanan Isra' dan Mi'raj kepada semua orang di Kota Mekah, mereka tidak mempercayai cerita Rasulullah SAW malah mengejek-ngejek dan menuduh baginda sebagai pembohong.

Mereka yang tidak percaya kepada cerita Rasulullah SAW telah pergi berjumpa dengan Saiyidina Abu Bakar untuk menanyakan sama ada cerita tersebut benar atau sebaliknya. Tujuan mereka adalah untuk mentertawakan Saidina Abu Bakar yang menjadi sahabat baik Rasulullah SAW.

Apabila Saiyidina Abu Bakar mendengar mendengar pertanyaan mereka, dengan tenang beliau bertanya semula apakah benar Rasulullah SAW bercerita sedemikian. Mereka mengatakan begitulah cerita Rasulullah SAW lalu tanpa ragu-ragu Saiyidina Abu Bakar menyatakan apa yang Rasulullah SAW katakan itu semuanya benar.

Saiyidina Abu Bakar bukan setakat mempercayai apa yang sahabatnya katakan tetapi juga sanggup berkorban harta untuk kepentingan perjuangan agama Islam yang dibawa oleh sahabatnya.

PENGORBANAN SAHABAT NABI.
Di samping itu, pengorbanan yang paling besar yang diberikan oleh Saiyidina Abu Bakar kepada Rasulullah SAW ialah apabila sanggup bersama-sama dengan sahabatnya sewaktu berhijrah ke Madinah.

Penghijrahan Rasulullah SAW ke Madinah bukanlah satu perjalanan yang selamat kerana orang-orang Quraisy sentiasa memusuhi dan ingin membunuh baginda.

Sewaktu dalam perjalanan dari Makkah ke Madinah, Saiyidina Abu Bakar sentiasa berada di hadapan dan di belakang Rasulullah SAW. Apabila baginda bertanya akan hal itu, Saidina Abu Bakar menjawab...

"Aku berjalan di hadapan untuk memilih jalan yang baik dan selamat sementara aku berjalan di belakangmu untuk menjaga keselamatanmu dari serangan musuh yang mengejarmu."

Sebagai kesimpulan, marilah kita perhatikan nasihat Abu Sulaiman tentang pentingnya memilih sahabat seperti yang dianjurkan oleh Islam.

Katanya...

Janganlah sesekali engkau bersahabat melainkan salah satu daripada 2 orang ini :

Pertama, orang yang dapat engkau ajak bersahabat dalam urusan duniamu dengan jujur.

Kedua, orang yang dijadikan sahabat itu dapat menambahkan kemanfaatan duniamu untuk urusan akhiratmu.

Jika engkau bersahabat selain daripada 2 orang ini, pastinya engkau memiliki kebodohan yang luar biasa besarnya.

Wednesday, November 24, 2010

Amal

 Makan malam bersama jemaah haji





Oleh : Jarjani Usman

“Yang mengikuti mayat ada tiga: keluarga, kekayaan dan amalnya, maka yang dua kembali yaitu keluarga dan kekayaannya, dan yang tetap tinggal padanya satu, iaitu amal perbuatannya” (HR.BukharidanMuslim).
Di saat berbagai bencana sudah demikian sering terjadi di mana-mana, mahunya setiap kita semakin bertambah sedar tentang ancaman kematian. Bahwa kematian bukan hanya disebabkan oleh rasa sakit atau penyakit tetapi oleh bencana,

juga bukan secara sendiri-sendiri tetapi berkelompok-kelompok, sudah jelas disaksikan dengan mata kepala sendiri pada kejadian yang menimpa orang-orang yang telah mendahului kita. Hari ini mungkin kita masih boleh sama-sama bergembira,

esok atau sebentar lagi akan berpisah untuk selama-lamanya. Namun, bagaimana kita mati hanyalah sebuah kisah yang memakan masa beberapa saat sahaja , tetapi yang menjadi kisah panjang dan tidak putus-putus tentunya amal kebaikan yang pernah dilakukan.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas, keluarga dan kekayaan tidak akan pernah ikut bersama di saat kematian datang pada seseorang, meskipun selama ini banyak orang sangat mementingkan dua hal tersebut. Demi meraih banyak kekayaan, banyak orang menjadi lupa tentang kematian.

Demi keluarga, juga banyak orang tidak ingat ajal. Berapa banyak orang yang berani berkhianat dan bahkan menganiaya orang lain, demi mementingkan anggota keluarganya.

Tidak sedikit orang berani berbuat diskriminasi dengan meluluskan anggota keluarganya sendiri dalam suatu bantuan untuk rakyat miskin, dengan menyingkirkan orang lain yang sebenarnya sangat memerlukan.

Meskipun melupakan kematian dengan mengabaikan kegiatan menambah amal, kematian tidak ak pernah melupakan siapapun kita.

Allah mengingatkan, “Sesungguhnya, kematian yang kamu lari daripadanya, sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu” (QS. Al-Jumu’ah : 8). Kerana itu, tidak ada yang boleh membantu,

kecuali kita sendiri bersegera melakukan amal kebaikan, termasuk juga dalam soal cara mengumpulkan kekayaan dan mendidik anggota keluarga dengan cara-cara dan di jalan yang diridhai Allah.

Tuesday, November 23, 2010

PASAl TENTANG BERJABAT TANGAN










Oleh : Yusuf Al-Lomboky

Ketahuilah bahwa berjabat tangan itu hukumnya sunnah yang telah disepakati bersama ketika terjadi perjumpaan.
Kami meriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari, dari Qatadah dia berkata, aku berkata kepada Anas radiyallahu 'anhu,
أَكَانَتْ الْمُصَافَحَةُ فِي أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم؟ قَالَ: نَعَمْ.

"Apakah berjabat tangan telah dilakukan pada masa sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam ? Dia menjawab, 'Ya'."

Kami meriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dalam hadits Ka'ab bin Malik radiyallahu 'anhu tentang kisah taubatnya, dia berkata,

فَقَامَ إِلَيَّ طَلْحَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللهِ رضي الله عنه يُهَرْوِلُ حَتَّى صَافَحَنِي وَهَنَّأَنِي.

"Maka Thalhah bin Ubaidillah bangun dan bergegas kepadaku sehingga dia menjabatku dan mengucapkan selamat kepadaku."

Kami meriwayatkan dengan isnad yang shahih dalam Sunan Abu Dawud, dari Anas bin Malik radiyallahu 'anhu dia berkata,

لَمَّا جَاءَ أَهْلُ الْيَمَنِ قَالَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: قَدْ جَاءَ كُمْ أَهْلُ الْيَمَنِ، وَهُمْ أَوَّلُ مَنْ جَاءَ بِالْمُصَافَحَةِ

"Ketika penduduk Yaman datang, Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda kepada mereka, 'Penduduk Yaman telah datang kepada kalian, dan mereka adalah orang-orang yang pertama kali datang dengan berjabat tangan'."

Kami meriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud, Sunan at-Tirmidzi dan Sunan Ibnu Majah, dari al-Barra' radiyallahu 'anhu, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallambersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَا.

'Tidaklah dua orang muslim bertemu seraya berjabat tangan, melainkan dosa keduanya diampuni sebelum mereka berpisah'."

Kami meriwayatkan dalam Kitab at-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari Anas radiyallahu 'anhu, dia berkata,

قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، الرَّجُلُ مِنَّا يَلْقَى أَخَاهُ أَوْ صَدِيقَهُ أَيَنْحَنِي لَهُ؟ قَالَ: لاَ، قَالَ: أَفَيَلْتَزِمُهُ وَيُقَبِّلُهُ؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: أَفَيَأْخُذُ بِيَدِهِ وَيُصَافِحُهُ؟ قَالَ: نَعَمْ.

"Seorang laki-laki berkata, 'Wahai Rasulullah, seorang laki-laki dari kami (kaum muslimin) bertemu dengan saudaranya (seiman) atau teman dekatnya, apakah dia harus membungkuk terhadapnya?

Beliau menjawab, 'Tidak.' Dia bertanya, 'Apakah dia harus memeluk dan menciumnya?' Beliau menjawab, 'Tidak.' Dia bertanya, 'Apakah dia harus meraih tangannya dan menjabatnya?' Beliau menjawab, 'Ya'."

At-Tirmidzi berkata, "Ini hadits hasan."

Dan dalam bab ini terdapat hadits yang banyak sekali

Kami meriwayatkan dalam Muwatha' milik Imam Malik rahimahullah, dari 'Atha` bin Abdullah al-Khurasani, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

تَصَافَحُوْا يَذْهَبِ الْغِلُّ، وَتَهَادَوْا تَحَابُّوْا وَتَذْهَبِ الشَّحْنَاءُ.

'Saling berjabat tanganlah kamu sekalian niscaya rasa iri hati akan hilang, dan saling memberi hadiahlah niscaya kalian akan saling mencintai, dan rasa permusuhan akan hilang'."

Saya mengatakan ini hadits mursal.

Dan ketahuilah bahwa berjabat tangan ini dianjurkan pada setiap pertemuan.

Sedangkan apa yang biasa dilakukan oleh orang-orang, yaitu berjabat tangan setelah Shalat Shubuh dan Ashar; tidak memiliki dasar di dalam Syariat pada momen ini,

akan tetapi itu tidak apa-apa. Karena pada dasarnya, berjabat tangan adalah sunnah, dan kenyataan bahwasanya mereka komitmen menjaganya dalam sebagian kesempatan dan melalaikannya dalam banyak kesempatan,

bahkan itu yang lebih banyak terjadi; itu tidak mengeluarkan dari (mengamalkan) berjabat tangan yang hukum dasarnya memang ditetapkan oleh Syariat.

Dan asy-Syaikh al-Imam Abu Muhammad bin Abdussalam rahimahullah dalam kitabnya al-Qawaid menyebutkan bahwa bid'ah itu terbagi dalam lima bagian: wajib, muharramah (yang diharamkan),

makruh (yang tidak disukai), mustahabbah (yang disunnahkan) dan mubahah (yang boleh). Dia berkata, "Dan di antara contoh bid'ah yang dibolehkan adalah berjabat tangan setelah Shalat Shubuh dan Ashar." Wallahu a'lam.

Saya mengatakan, "Dan seyogyanya seseorang menjaga diri dari berjabat tangan dengan orang tak berjenggot yang ganteng, karena melihat kepadanya hukumnya haram, sebagaimana telah kami jelaskan pada pasal sebelum ini." Para sahabat kami berkata,

"Setiap orang yang diharamkan melihat kepadanya, maka diharamkan pula memegangnya. Bahkan memegang lebih diharamkan, karena dihalalkan bagi seseorang untuk melihat kepada wanita bukan mahram apabila dia ingin menikahinya,

demikian pula dihalalkan melihat wanita bukan mahram ketika jual beli, mengambil dan memberi dan semisalnya. Namun demikian tidak boleh memegangnya pada kondisi tersebut. Wallahu a'lam.

Pasal: dianjurkan ketika berjabat tangan menampakkan wajah yang berseri (bersahabat) dan berdoa meminta ampunan, dan sebagainya.

Kami meriwayatkan dalam Shahih Muslim, dari Abu Dzar radiyallahu 'anhu, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku,

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلِيْقٍ.

'Janganlah kamu menghina suatu kebaikan, walaupun hanya bertemu saudaramu dengan wajah berseri-seri'."

Kami meriwayatkan dalam kitab Ibn as-Sunni, dari al-Bara` bin 'Azib radiyallahu 'anhu, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الْمُسْلِمَيْنِ إِذَا الْتَقَيَا فَتَصَافَحَا وَتَكَاشَرَا بِوُدٍّ وَ نَصِيْحَةٍ تَنَاثَرَتْ خَطَايَاهُمَا بَيْنَهُمَا.

'Sesungguhnya dua orang muslim apabila bertemu lalu saling berjabat tangan dan tersenyum dengan perasaan sayang dan nasihat, niscaya dosa-dosa mereka di antara mereka berdua akan berhamburan'."

Dan dalam riwayat lain

إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَاِن فَتَصَافَحَا وَحَمِدَا اللهَ سبحانه و تعالى وَاسْتَغْفَرَا غَفَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمَا

"Apabila dua orang muslim bertemu, lalu saling berjabat tangan dan memuji Allah serta meminta ampun, niscaya Allah subhanahu wa ta'ala mengampuni keduanya."

Kami meriwayatkan di dalamnya, dari Anas radiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda,

مَا مِنْ عَبْدَيْنِِ مُتَحَابَّيْنِ فِي اللهِ سبحانه و تعالى يَسْتَقْبِلُ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ فَيُصَافِحُهُ فَيُصَلِّيَانِ عَلَى النَّبِي صلى الله عليه و سلم إلاَّ لَمْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى تُغْفَرَ ذُنُوْبُهُمَا، مَا تَقَدَّمَ مِنْهَا وَمَا تَأَخَّرَ.

"Tidaklah dua orang hamba yang saling mencintai karena Allah Subhanahu wa Ta`ala, di mana salah seorang dari keduanya menyambut temannya, lalu menjabat tangannya dan bershalawat atas Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, jika mereka belum berpisah, melainkan dosa keduanya diampuni, baik dosa yang telah lalu dan yang akan datang."

Kami meriwayatkan di dalamnya juga dari Anas radiyallahu 'anhu, dia berkata,

مَا أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم بِيَدِ رَجُلٍ فَفَارَقَهُ حَتَّى قَاَل اللّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَ فِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

"Tidaklah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, menjabat tangan seorang laki-laki, lalu dia melepaskannya sehingga beliau mengucapkan, 'Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka'."

Pasal: Dimakruhkannya membungkukkan punggung terhadap setiap orang dalam segala kondisi.

Dan dalil yang menunjukkannya adalah riwayat yang telah kami kemukakan dalam dua pasal yang terdahulu, dari hadits Anas radiyallahu 'anhudengan ucapannya,

أَيَنْحَنِي لَهُ؟ قَالَ لاَ...

"Apakah dia harus membungkukkan punggung kepadanya? Nabi menjawab, 'Tidak'...."

Dan ia adalah hadits hasan sebagaimana telah kami sebutkan, dan tidak ada hadits yang menentangnya maka tidak ada dasar untuk menentangnya.

Dan orang tidak perlu terpedaya karena begitu banyaknya orang-orang yang melakukannya dari orang-orang yang dianggap berilmu dan shalih serta berbagai sifat utama lainnya, karena tauladan sesungguhnya hanya ada pada diri RasulullahShallallahu 'alaihi wasallam,

وَمَآءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَانَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

"Apa yang didatangkan Rasul kepadamu maka ambillah dia (sebagai teladan) dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah". (Al-Hasyr: 7).

Dan Allah Subhanahu wa Ta`ala berfirman,

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahNya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih." (An-Nur: 63)

Dan telah kami kemukakan sebelumnya dalam kitab al-Jana`iz riwayat dari al-Fudhail bin 'Iyadh radiyallahu 'anhu yang maknanya, "Ikutilah jalan-jalan petunjuk,

dan sedikitnya orang yang meniti jalan petunjuk tersebut tidak akan membahayakanmu. Jauhilah jalan-jalan kesesatan, dan janganlah tertipu dengan banyaknya orang yang celaka. Dan taufiq hanyalah dari Allah.

Pasal: adapun menghormati orang yang masuk dengan berdiri, pendapat yang kami pilih bahwa ia hukumnya mustahab, sunnah terhadap siapa yang mempunyai keutamaan yang menonjol dari segi ilmu atau keshalehan atau kemuliaan

atau kekuasaan yang disertai dengan pengawalan, atau dia mempunyai anak keturunan atau kerabat yang sudah tua dan semisalnya, dan sikap berdiri ini berfungsi untuk menunjukkan kebaikan, kemuliaan, penghormatan, dan bukan untuk riya' dan pengagungan.

Berdasarkan pendapat yang kami pilih inilah perbuatan salaf dan khalaf terus berlanjut. Saya telah mengumpulkan pembahasan tersebut dalam kitab tersendiri di mana di dalamnya saya mengum-pulkan hadits-hadits, atsar-atsar, pendapat dan perbuatan salaf yang menunjukkan kepada pendapat yang telah saya sebutkan, dan saya juga menyebutkan pendapat yang menentangnya kemudian menjelaskan jawaban terhadapnya.

Siapa yang masih rancu dalam pembahasan tersebut, dan tertarik untuk menelaah kitab tersebut, maka saya mengharapkan agar kerancuannya hilang, insya Allah. Wallahu a'lam.